Parsadaan
Marga Harahap dengan Anak Borunya
Daerah
Jakarta dan Sekitarnya
Alamat:
Jalan Batu Pancawarna I/2A Pulomas , Kelurahan Kayu Putih,
Jakarta. 13210. Telepon: (021) – 472-2243.
----------------------------------------------------------------
Tua ni na-Mangholongi, ni-Haholongi
(Keuntungan si-Penyayang,
di-Sayangi)
Baginda Parbalohan.
Surat
Pengantar
Prihal:
1. Tarombo/Silsilah
2. Situs:
http://harahaphanopan.blogspot.com
Jakarta, ……… 2010.
Kepada
Seluruh Kahanggi/Anakboru/Pisangraut,
dimanapun
berada.
Horas!
Bersama surat ini kami sampaikan Tarombo Marga Harahap keturunan Tongku
Mangaraja Hanopan yang kahanggi dapat download untuk dimiliki.
Kami dari parsadaan sangat mengharapkan datangnya tanggapan kahanggi terhadap
silsilah keluarga marga Harahap keturunan Ompu Parsadaan ini, terutama tentang
yang berikut:
- benarnya penulisan nama, gelar, dan alamat;
- tepatnya susunan dan jumlah anggota keluarga yang tersurat;
- sesuainya keterangan tanggal, bulan, tahun, dan tempat lahir. Dan
kepada mereka yang
belum lagi tercantum, diharapkan dapat segera menyampaikannya kepada
kami;
- keteragan: pendidikan, pekerjaan, pengalaman, dan lain sebagainya.
Sudilah kiranya kahanggi mengirimkan tanggapan ke alamat yang disebutkan
diatas, sehingga kedepan tarombo ini dapat dibuat lengkap, dan lebih
bermanfaat, tidak semata untuk mengakrab-kan persaudaraan diantara keturunan
sebagaimana yang diteladankan para pendahulu di kam-pung dahulu, juga baik
untuk disampaikan kepada generasi penerus yang datang kemudian.
Akhirulkalam, terimakasih kami ucapkan atas perhatian yang kahanggi
berikan.
Horas
kepada kahanggi, dan kirim salam kami kepada seluruh keluarga dirumah. Wassalam.
H.M.Rusli Harahap
Ketua Parsadaan
Pendahuluan.
Masyarakat Batak
mengenal kahanggi, yakni himpunan keluarga semarga, tempat bernaung para
anggotanya. Untuk mengetahui anggota sesuatu marga di Bonabulu disusunlah
tarombo, atau silsilah keluarga. Tarombo di Tapanuli berawal dari budaya
lisan menyampaikan pesan ka-hanggi kepada keturunannya, atau generasi
penerus, dalam perjalanan waktu. Dengan semakin banyak kahanggi, baik yang
berdiam di Bona Bulu maupun perantauan, budaya lisan harus be-ralih menjadi budaya
tulis.
Memasuki budaya tulis, tarombo awalnya
disuratkan di helaian kulit kayu, bilah bambu, atau lainnya, dalam aksara
Batak. Dengan kedatangan agama Islam ke Nusantara abad ke-13, dan masuk ke
Tanah Batak dalam Perang Padri (1825-1838), yang mengajarkan tulisan Arab,
aksara baru pun digunakan untuk menyuratkan tarombo. Dengan diperkenalkannya
bahasa Melayu ber-aksara Latin oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda
menjelang abad ke-20 di tanahair, ta-rombo pun beralih disuratkan kedalam
aksara Latin ejaan Melayu/Indonesia.
Masyarakat Batak di Tapanuli menganut garis keturunan kebapaan atau
patrilenial. Suhut (Batak), Keluarga Batih (Indonesia), Nuclear Family
(Inggris), ialah masyarakat terkecil dipim-pin Suhutsihabolonan. Yang disebut
terakhir sekaligus menjadi Kepala Adat, dan berhak untuk menurunkan marga, atau
nama keluarga, kepada anak-anaknya menurut Adat Batak. Cara seba-liknya berlaku
di Sumatera Barat (Minangkabau), dimana ibulah si pemegang hak, meski dijalan- kan
oleh saudara laki-lakinya sejalan Adat Minang.
Menurut sistim keluarga garis kebapaan,
ada dua cara menyusun tarombo sesuatu marga untuk dibagikan diantara kahanggi,
dan disampaikan kepada generasi penerus, yakni: Pohon Kelu-arga
(Indonesia), Family Tree (Inggris), Stamboom (Belanda); dan Perjalanan
Generasi (The Passage of Generations).
Pada cara Pohon Keluarga, tarombo disusun dari atas
ke bawah diawali nama leluhur pemersatu sesuatu marga yang diketahui,
dilanjutkan dengan keturunannya menurut garis laki-laki hingga saat ini,
disuratkan di kertas lebar, melahirkan bangun segitiga/piramida yang duduk pada
alas-nya. Ada lagi yang menyuratkannya memancar, juga di kertas lebar, tetapi
dalam lingkaran-lingkaran sepusat, dimana nama leluhur pemersatu berada di
tengah. Cara ini pun masih tergolong pohon keluarga.
Pada Perjalanan Generasi, tarombo juga
disusun dari atas kebawah, juga diawali dari leluhur pe-mersatu sesuatu marga
yang diketahui, tetapi diatas berlembar-lembar kertas kuarto atau folio,
sebagaimana tarombo marga Harahap keturunan Ja Alaan, gelar Tongku Mangaraja
Hanopan, dari Hanopan ini. Pada cara ini, tiap generasi akan terpisah satu dari
lainnya, sehingga nama-nama yang muncul sama berasal dari kebiasaan suku bangsa
Batak mengambil nama-nama: Ka-kek (Ompung), Amantua (Uak), Uda (Paman) dan
lainnya, tidak akan menimbulkan kekeliruan dengan nama yang tersurat sama
terdapat pada generasi sebelum, atau sesudahnya. Selain dari itu, pada
Perjalanan Generasi terdapat ruang luas untuk juga mencantumkan keterangan,
seperti: tanggal bulan dan tahun lahir, alamat, pendidikan, pekerjaan,
pengalaman hidup, dan lain seba-gainya yang sangat bermanfaat bagi generasi penerus.
Kahanggi keturunan Ja Alaan, gelar Tongku
Mangaraja Hanopan, dari Hanopan ini tidak di-ragukan lagi meningkat jumlahnya
dalam perjalanan waktu. Berdampingan dengan mereka berkembang pula anakboru
dan moranya. Dahulu ketiga keluarga besar ini masih berdiam di Bona Bulu/Bona
Pasogit, tetapi kini telah banyak dari mereka yang berada di perantauan:
tanah-air dan mancanegara.
Dapatkah kekerabatan Dalihan Na Tolu yang
diperkenalkan leluhur dahulu ketika semuanya masih berdiam di Bona Pasogit dilanjutkan?
Dalam kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi ini pasti dapat, asalkan ada
lembaga Hatobangon (Tetua Adat) marga Harahap keturunan Ja Alaan, gelar Tongku
Mangaraja Hanopan, berasal dari: Bunga Bondar, Hanopan, Panggulangan, Siak
Sri-Indrapura yang bersedia menjadi pemikir (think tank), menyusun perencana,
dan melaksanakan pembangunan Sumber Daya Manusia yang berharga ini.
Mudah-mudahan saja ada!
