Monday, 19 September 2011




Parsadaan Marga Harahap dengan Anak Borunya
Daerah Jakarta dan Sekitarnya
                 Alamat: Jalan Batu Pancawarna I/2A Pulomas , Kelurahan Kayu Putih,
                               Jakarta. 13210. Telepon: (021) – 472-2243.
----------------------------------------------------------------
Tua ni na-Mangholongi, ni-Haholongi
(Keuntungan si-Penyayang, di-Sayangi)
                                                                                            Baginda Parbalohan.


Surat Pengantar

Prihal: 1. Tarombo/Silsilah
            2. Situs: http://harahaphanopan.blogspot.com
                                                                                                            
                                                                                                                   Jakarta, ……… 2010.

Kepada
Seluruh Kahanggi/Anakboru/Pisangraut,
dimanapun berada.

Horas!
     Bersama surat ini kami sampaikan Tarombo Marga Harahap keturunan Tongku Mangaraja Hanopan yang kahanggi dapat download untuk dimiliki.
      Kami dari parsadaan sangat mengharapkan datangnya tanggapan kahanggi terhadap silsilah keluarga marga Harahap keturunan Ompu Parsadaan ini, terutama tentang yang berikut:
      - benarnya penulisan nama, gelar, dan alamat;
      - tepatnya susunan dan jumlah anggota keluarga yang tersurat;
      - sesuainya keterangan tanggal, bulan, tahun, dan tempat lahir. Dan kepada mereka yang 
         belum lagi tercantum, diharapkan dapat segera menyampaikannya kepada kami;
      - keteragan: pendidikan, pekerjaan, pengalaman, dan lain sebagainya.
     Sudilah kiranya kahanggi mengirimkan tanggapan ke alamat yang disebutkan diatas, sehingga kedepan tarombo ini dapat dibuat lengkap, dan lebih bermanfaat, tidak semata untuk mengakrab-kan persaudaraan diantara keturunan sebagaimana yang diteladankan para pendahulu di kam-pung dahulu, juga baik untuk disampaikan kepada generasi penerus yang datang kemudian.
     Akhirulkalam, terimakasih kami ucapkan atas perhatian yang kahanggi berikan.
Horas kepada kahanggi, dan kirim salam kami kepada seluruh keluarga dirumah. Wassalam.


                                                                                                                       H.M.Rusli Harahap
                                                                                                                        Ketua Parsadaan

Pendahuluan.

     Masyarakat Batak mengenal kahanggi, yakni himpunan keluarga semarga, tempat bernaung para anggotanya. Untuk mengetahui anggota sesuatu marga di Bonabulu disusunlah tarombo, atau silsilah keluarga. Tarombo di Tapanuli berawal dari budaya lisan menyampaikan pesan ka-hanggi kepada keturunannya, atau generasi penerus, dalam perjalanan waktu. Dengan semakin banyak kahanggi, baik yang berdiam di Bona Bulu maupun perantauan, budaya lisan harus be-ralih menjadi budaya tulis.
     Memasuki budaya tulis, tarombo awalnya disuratkan di helaian kulit kayu, bilah bambu, atau lainnya, dalam aksara Batak. Dengan kedatangan agama Islam ke Nusantara abad ke-13, dan masuk ke Tanah Batak dalam Perang Padri (1825-1838), yang mengajarkan tulisan Arab, aksara baru pun digunakan untuk menyuratkan tarombo. Dengan diperkenalkannya bahasa Melayu ber-aksara Latin oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda menjelang abad ke-20 di tanahair, ta-rombo pun beralih disuratkan kedalam aksara Latin  ejaan Melayu/Indonesia.
     Masyarakat Batak di Tapanuli menganut garis keturunan kebapaan atau patrilenial. Suhut (Batak), Keluarga Batih (Indonesia), Nuclear Family (Inggris), ialah masyarakat terkecil dipim-pin Suhutsihabolonan. Yang disebut terakhir sekaligus menjadi Kepala Adat, dan berhak untuk menurunkan marga, atau nama keluarga, kepada anak-anaknya menurut Adat Batak. Cara seba-liknya berlaku di Sumatera Barat (Minangkabau), dimana ibulah si pemegang hak, meski dijalan- kan oleh saudara laki-lakinya sejalan Adat Minang.
     Menurut sistim keluarga garis kebapaan, ada dua cara menyusun tarombo sesuatu marga untuk dibagikan diantara kahanggi, dan disampaikan kepada generasi penerus, yakni: Pohon Kelu-arga (Indonesia), Family Tree (Inggris), Stamboom (Belanda); dan Perjalanan Generasi (The Passage of Generations).
Pada cara Pohon Keluarga, tarombo disusun dari atas ke bawah diawali nama leluhur pemersatu sesuatu marga yang diketahui, dilanjutkan dengan keturunannya menurut garis laki-laki hingga saat ini, disuratkan di kertas lebar, melahirkan bangun segitiga/piramida yang duduk pada alas-nya. Ada lagi yang menyuratkannya memancar, juga di kertas lebar, tetapi dalam lingkaran-lingkaran sepusat, dimana nama leluhur pemersatu berada di tengah. Cara ini pun masih tergolong pohon keluarga.
Pada Perjalanan Generasi, tarombo juga disusun dari atas kebawah, juga diawali dari leluhur pe-mersatu sesuatu marga yang diketahui, tetapi diatas berlembar-lembar kertas kuarto atau folio, sebagaimana tarombo marga Harahap keturunan Ja Alaan, gelar Tongku Mangaraja Hanopan, dari Hanopan ini. Pada cara ini, tiap generasi akan terpisah satu dari lainnya, sehingga nama-nama yang muncul sama berasal dari kebiasaan suku bangsa Batak mengambil nama-nama: Ka-kek (Ompung), Amantua (Uak), Uda (Paman) dan lainnya, tidak akan menimbulkan kekeliruan dengan nama yang tersurat sama terdapat pada generasi sebelum, atau sesudahnya. Selain dari itu, pada Perjalanan Generasi terdapat ruang luas untuk juga mencantumkan keterangan, seperti: tanggal bulan dan tahun lahir, alamat, pendidikan, pekerjaan, pengalaman hidup, dan lain seba-gainya yang sangat bermanfaat bagi generasi penerus.
     Kahanggi keturunan Ja Alaan, gelar Tongku Mangaraja Hanopan, dari Hanopan ini tidak di-ragukan lagi meningkat jumlahnya dalam perjalanan waktu. Berdampingan dengan mereka berkembang pula anakboru dan moranya. Dahulu ketiga keluarga besar ini masih berdiam di Bona Bulu/Bona Pasogit, tetapi kini telah banyak dari mereka yang berada di perantauan: tanah-air dan mancanegara.
     Dapatkah kekerabatan Dalihan Na Tolu yang diperkenalkan leluhur dahulu ketika semuanya masih berdiam di Bona Pasogit dilanjutkan? Dalam kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi ini pasti dapat, asalkan ada lembaga Hatobangon (Tetua Adat) marga Harahap keturunan Ja Alaan, gelar Tongku Mangaraja Hanopan, berasal dari: Bunga Bondar, Hanopan, Panggulangan, Siak Sri-Indrapura yang bersedia menjadi pemikir (think tank), menyusun perencana, dan melaksanakan pembangunan Sumber Daya Manusia yang berharga ini. Mudah-mudahan saja ada!